KASUS foto palsu kembali mewarnai dunia jurnalistik. Setelah pada 31 Maret 2003 koran The LA Times dipermalukan oleh foto rekayasa karya Brian Walski, kini Pemimpin Redaksi Harian The Daily Mirror di Inggris, Piers Morgan, mengundurkan diri karena foto palsu yang dimuat korannya pada 1 Mei lalu. Sama-sama foto soal Irak, kasus LA Times dan Daily Mirror mengingatkan kita untuk melihat foto jurnalistik dari sisi yang lebih kritis.
PERBEDAAN utama kasus LA Times dan Mirror adalah pada "letak kesalahan foto"-nya. Pada LA Times, peristiwa yang terpotret adalah asli. Artinya, kalau Walski cukup teliti mengolah fotonya, orang-orang yang ada di dalam foto itu pun akan mengatakan bahwa foto Walski asli. Kasus foto palsu pada LA Times mencuat karena LA Times sendiri ingin mengatakan bahwa mereka tidak menolerir foto jurnalistik yang diutak-atik.
Namun, pada kasus Mirror, hal sebaliknya yang terjadi. Foto yang dimuat di halaman pertama Mirror pada 1 Mei itu sungguh-sungguh foto asli bukan hasil rekayasa fisik. Namun, realitas dalam foto itu yang palsu. Artinya, adegan yang terpotret bukanlah adegan seperti yang disebut dalam keterangan foto.
Agar tidak membingungkan, baiklah diterangkan di sini bahwa foto tentara Inggris sedang mengencingi tawanan Irak itu bukanlah foto yang dibuat di Irak. Foto itu dibuat oleh empat serdadu Inggris (sudah ditangkap, Sabtu 15/5) di sebuah tempat di London dan lalu mengirimkannya ke Mirror. Tanpa mengecek lebih lanjut, Mirror memuatnya di sampul depan dengan keyakinan bahwa tentara Inggris juga melakukan kekejaman di Irak seperti tentara AS.
Tanpa "recheck "
Piers Morgan adalah editor yang hebat. Reputasinya selama ini seolah tanpa cela. Kesalahan yang telah dilakukannya sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja. Masalahnya, foto yang diterima itu begitu meyakinkan.
Rabu (28/4) waktu AS atau Kamis dini hari waktu Inggris, CBS mengumumkan temuan foto-foto kekejaman di Irak oleh tentara AS. Berarti sekitar Kamis siang atau Jumat pagi waktu Inggris, Mirror menerima kiriman foto palsu itu.
Mungkin dengan pertimbangan eksklusivitas, apalagi dengan kenyataan bahwa foto-foto temuan CBS itu tidak terbantahkan, Mirror lalu memuat foto di halaman depan edisi 1 Mei itu tanpa mengecek lebih jauh (recheck). Kini bisa dipastikan bahwa pengirim foto tidak jelas.
Sebenarnya, masalah foto asli tapi palsu adalah masalah semua editor di dunia ini. Saat terjadi Kerusuhan Mei 1998, Kompas, misalnya, banyak menerima foto "bukti" perkosaan terhadap wanita-wanita etnis Tionghoa. Namun, jelas bahwa foto-foto itu adalah foto dari situs-situs porno China dan Jepang.
Demikian pula banyak foto di berbagai mailing list tentang kekejaman Israel terhadap Palestina adalah palsu. Lepas dari kenyataan bahwa Israel memang sewenang-wenang terhadap Palestina, sebagian foto-foto "kejam" itu diambil dari www.rotten.com. Misalnya, sebuah foto kecelakaan lalu lintas di Jordania diklaim sebagai foto akibat kekejaman tentara Israel.
Seorang pembaca pernah bertanya, bagaimana membedakan foto asli dan foto palsu. Jawaban atas pertanyaan ini sebenarnya gampang. Jawabannya sama dengan jawaban atas pertanyaan, bagaimana membedakan berita benar dan berita bohong.
Kita harus menghidupkan nalar dan pikiran jernih kita atas sesuatu yang kita dengar dan lihat. Kepalsuan ada di mana-mana. Kitalah yang harus waspada.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar