“Kita harus realistis, menikah bagi wanita adalah kehidupan kedua kalinya, dan aku harus memegang kesempatan ini. Kau terlalu miskin, sungguh aku tidak berani membayangkan bila kita harus tetap berpacaran dan menikah. Aku akan segera menikah dan tinggal di Paris,” Swat Lie berkata kepada Alung untuk mengakhiri hubungan kasih mereka.
Alung termenung berhari-hari, teringat saat bahagianya bersama Swat Lie, ia melipat burung kertas dan memberikan burung kertas kepada Swat Lie sebagai tanda 1.000 ketulusan hatinya mencintai Swat Lie. Sekarang semuanya seakan hancur dan tak bersisa sedikitpun.
Perkataan Swat Lie mendorong Alung bekerja lebih keras, perkataan itu memotivasinya untuk menjadi orang yang sukses, sukses dan sukses!. Ia bekerja menjadi penjual koran, kemudian memulai bisnis kecil.
Setiap pekerjaannya dilakukan dengan baik dan tekun.
Beberapa tahun telah lewat, Alung telah menjadi seorang pengusaha yang sangat sukses. Alung sudah nenjadi seorang yang kaya, tetapi hati dan pikirannya tidak dapat melupakan Swat Lie.
Pada suatu hari, dari dalam mobilnya Alung melihat kedua orang tua Swat Lie sedang berjalan kaki di atas trotoar. Timbul keingginan didalam hatinya untuk memperlihatkan kepada mereka bahwa ia bukan lagi seorang Alung yang miskin.
Alung mengendarai mobilnya dengan sangat perlahan mengikuti sepasang orang tua tersebut.
Hujan terus turun tanpa henti, walaupun sepasang orang tua itu memakai payung, tubuh mereka tetap basah oleh air hujan.
Sewaktu mereka sampai di tempat tujuan, Alung tercenggang dengan apa yang dilihatnya, tempat itu adalah tempat pemakaman !.
Dan diatas batu nisan terlihat foto Swat Lie tersenyum sangat manis. Disamping makam kecil itu tergantung burung-burung kertas yang di buat oleh Alung.
Orang tua Swat Lie memberitahu Alung, “Swat Lie tidak pergi ke Paris. Swat Lie terkena kanker ganas, dia pergi ke surga. Swat Lie ingin Alung menjadi orang yang berhasil, mempunyai keluarga yang harmonis, maka ia berbuat demikian untuk Alung. Swat Lie pernah berkata bahwa dia sangat mengerti Alung, dia percaya kalu Alung suatu saat pasti akan sukses. Swat Lie mengatakan kalau suatu hari nanti Alung datang ke makamnya, dia berharap Alung dapat membawa beberapa burung kertas buatannya lagi.”
Alung berlutut didepan makam Swat Lie, ia menangis dengan sangat sedihnya. Hujan deras pada hari Ceng Beng membasahi seluruh tubuh Alung. Rasa dingin tidak tersa lagi bagi Alung, yang ada hanya kepiluan hati.
Alung teringat senyum manis Swat Lie yang begitu manis dan polos, hatinya terharu dan terpukul. Ia termenung di makam Swat Lie sampai larut malam.
Mereka bertiga pulang dengan mobil Alung dengan perasaan sedih, haru dan rindu.
Dalam cerita ini terlihat bahwa, karena cintanya kepada Alung, Swat Lie ingin Alung menjadi orang ynag sukses. Ia tidak ingin Alung menghabiskan waktunya untuk merawat dirinya, untuk itu ia ingin mengorbankan dirinya dan perasaannya dalam penderitaan menunggu ajal menjemputnya.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar