Beberapa saat sebelum perang dunia II mendekati akhir, Eropa mulai dilanda krisis. Sebagian besar dari kota-kota di Eropa sudah luluh lantak oleh peperangan dan menjadi reruntuhan. Barangkali yang sungguh sangat mengharukan dan menyayat hati adalah didapatinya anak-anak yatim piatu yang menderita kelaparan di pinggir-pinggir jalan kota yang porak poranda itu.
Disuatu pagi yang dingin, seorang tentara Amerika sedang dalam perjalanan pulang ke tempat tinggalnya di London. Sementara dia mengarahkan pandangannya ke sebuah sudut kota dari dalam kendaraan yang di tumpanginya, ia menyaksikan ada seorang anak laki-laki yang sedang merapatkan hidungnya pada sebuah kaca etalase toko yang menjual kue - kue kering.
Didalam, si tukang pembuat kue sedang mengeluarkan dari dalam oven, sejumlah kue donat yang masih segar. Si anak kecil kelaparan itu berdiri mematung, menyaksikan dengan kedua matanya setiap kali si tukang pembuat kue itu mengeluarkan donat dari oven nya.
Si tentara tersebut segera memarkir mobilnya dan berjalan pelan-pelan mendekati tempat anak laki-laki itu berdiri. Bersamaan dengan uap yang mengepul dari jendela yang menebarkan bau harum kue donat yang membangkitkan nafsu makan itu, dia melihat mulut si anak itu berkerut-kerut, seraya menyaksikan di tempatkannya kue-kue donat yang masih hangat itu di tempat yang telah disediakan. Si anak laki-laki itu lalu semakin mendekatkan hidungnya dengan hati-hati, setelah ia melihat bahwa tumpukan kue donat yang masih hangat itu ternyata di tempatkan tak jauh dari etalase kaca tempat dimana ia berdiri.
Hati si tentara ini sungguh terharu dan tergugah, sementara dia berjalan mendekati si anak itu.
“Nak, apakah kamu mau beberapa kue donat itu?”
Si anak itu pun sungguh terhenyak mendengar pertanyaan itu.
“Oh, ya…saya mau sekali!”
Si tentara Amerika ini lalu melangkah ke dalam took kue itu dan membeli beberapa kue donat, memasukannya ke dalam tas kue, dan kemudian keluar menuju ke tempat dimana si anak laki-laki itu berdiri, pada saat kabut pagi masih meliputi kota London.
Ia pun tersenyum, dan memberikan tas berisi kue donat sebanyak sepuluh potong itu dan berkata,
“Ini Nak, makanlah.”
Sementara ia berjalan menuju mobilnya, ia merasa ada orang yang memegangi ujung pakaiannya.
Iapun menoleh kembali kebelakang dan mendengar si anak kecil itu bertanya dengan suara kecil yang serak dan terbata-bat karena sudah lama tidak makan selama beberapa hari.
“Tuan….apakah Tuan ini Yesus?”
Dalam hal memberi lakukan itu sebagaimana Allah memberikan kasihnya kepada kita lewat korban Tuhan Yesus. Jadikan dalam diri kita mangalir kasih Kristus yang tanpa pamrih apapun memberikan diri-Nya untuk menebus dosa kita, biar orang melihat ada Kristus dalam hidup kita
Tidak ada komentar :
Posting Komentar